Sabtu, 11 Desember 2010

Tips Hindari Kandungan Berbahaya Es Cendol

Menurut Drh A A Nyoman Merta Negara dari Badan POM RI, bahan-bahan berbahaya itu diduga masih digunakan dalam jajanan di sekolah-sekolah dengan maksud dan tujuan yang tertentu. Seperti bakso, lontong, es sirup berwarna merah, kerupuk merah dan mie basah. Untuk mengetahui apakah jajanan tersebut mengandung bahan berbahaya sangatlah mudah. Yaitu dengan memperhatikan bentuk dan warna jajanan tersebut. Bahan kimia boraks yang merupakan bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu, antiseptik kayu, dan pengontrol kecoak. Sinonimnya natrium biborat, natrium piroborat, natrium tetraborat. Sifatnya berwarna putih dan sedikit larut dalam air dapat membuat kenyal pangan, seperti bakso dan lontong.
Bakso yang sudah mengandung borak, lebih kenyal dibanding bakso tanpa boraks. Kalau digigit akan kembali ke bentuk semula. Tahan lama atau awet beberapa hari. Warnanya tampak lebih putih. Bakso yang aman berwarna abu-abu segar merata di semua bagian, baik di pinggir maupun tengah. Bau terasa tidak alami. Ada bau lain yang muncul. Bila dilemparkan ke lantai akan memantul seperti bola bekel, ungkapnya.
Sedangkan makanan yang mengandung formalin yang lebih dikenal sebagai bahan pengawet mayat ini juga dapat membuat makanan kenyal dan mengkilat. Namun makanan yang diberi formalin pada saat digoreng akan mengeluarkan bau yang perih di mata. Contohnya mie basah yang telah dicampur dengan formalin apabila ditarik seperti karet dan tidak patah. Sedangkan tahu mengandung formalin bentuknya sangat bagus, kenyal, tidak mudah hancur dan awet. Formalin juga ditemukan pada ayam potong, dengan ciri-ciri berwarna putih bersih dan tidak mudah busuk atau awet dalam beberapa hari.
Selain formalin dan boraks, beberapa jenis bahan makanan yang diuji BPOM juga mengandung bahan berbahaya, seperti pewarna tekstil, kertas, dan cat (rodamin B), methanyl yellow, amaranth. Pemakaian ini sangat berbahaya karena bisa memicu kanker serta merusak ginjal dan hati. Payahnya lagi, bahan-bahan ini ditambahkan pada jajanan untuk anak-anak, seperti es sirop atau cendol. Minuman ringan seperti limun, kue, gorengan, kerupuk, dan saus sambal.
Ciri makanan yang mengandung rodamin B, warna kelihatan cerah (berwarna-warni), sehingga tampak menarik. Ada sedikit rasa pahit (terutama pada sirop atau limun). Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya. Baunya tidak alami sesuai makanannya. Karena itu, Nyoman mengajak agar sekolah harus sudah selektif memilih makanan apa saja yang boleh dijajakan di sekolahnya. Karena makanan yang dijajakan di kantin sekolah dijamin oleh sekolah kebersihan dan terbebas dari bahan berbahaya.
Dari pelatihan tersebut pihaknya juga memberikan tes kit bahan berbahaya tersebut sebanyak 2 jenis kepada masing-masing sekolah. Tes kit ini dapat digunakan untuk menguji secara cepat apabila ditemukan pangan yang diduga mengandung bahan berbahaya. Apabila ditemukan pangan tersebut tak boleh lagi diperjualbelikan di lingkungan sekolah. Oleh karena itulah, dalam hal ini pihak sekolah harus bertindak tegas menjaga kesehatan siswanya, tegasnya.
Sementara itu, umat Islam disunahkan berbuka puasa dengan yang manis. Manis identik dengan kadar gula tinggi, sehingga diharapkan glukosa darah segera kembali ke level normal. Selama berpuasa di siang hari, secara alami kadar glukosa darah menurun. Hal itu menyebabkan banyak orang merasa mengantuk, lemas, atau kurang mampu berkonsentrasi pada separuh waktu berpuasa hingga menjelang saat berbuka.

Kadar glukosa darah harus segera dikembalikan dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang berkadar gula cukup tinggi. Lantas apa menu berbuka puasa Anda sekeluarga hari ini? Bila Ands bosan dengan kolak, kurma, pisang goreng, atau teh manis, tak ada salahnya mencoba es dawet.

Semoga dinginnya es batu, kenyalnya tekstur dawet, manisnya gula merah, serta wanginya perpaduan aroma daun pandan dan buah nangka, dapat membawa keceriaan saat berbuka.

Asal Banjarnegara

Es dawet merupakan jenis minuman khas masyarakat Banjarnegara, Jawa Tengah. Di Jawa Barat, produk yang sama dikenal dengan nama es cendol.

Saat bulan puasa, pedagang es dawet atau es cendol semakin banyak ditemukan. Minuman ini menjadi favorit karena bersifat menyegarkan dan dapat membuat konsumennya merasa bugar kembali setelah berpantang makan dan minum di siang hari.

Di Banjarnegara, pada awalnya produk ini hanya diperjualbelikan di warung-warung kecil menggunakan gerobak pikul. Karena enak dan menyegarkan, perlahan es dawet dapat diterima oleh berbagai kalangan masyarakat.

Dewasa ini es dawet telah berkembang ke luar Jawa dan merambah ke seluruh daerah di Indonesia. Perkembangan tersebut diikuti oleh berbagai modifikasi, seperti perubahan warna dawet dari hijau muda menjadi merah muda atau putih, penggantian jenis buah nangka dengan durian dan buah lain, serta adanya penambahan bahan lain (cincau hitam, ketan hitam, ketan putih, tape).

Di masa lalu, ciri khas dalam menjajakan es dawet biasanya ditandai adanya gentong-gentong kecil berwarna cokelat. Belakangan ini pencitraan es dawet semakin baik, ditandai dengan lahirnya beberapa pengusaha waralaba (franchise), dengan ciri khas masing-masing. Di beberapa tempat, es dawet dijual dengan embel-embel nama, seperti es dawet ayu, es dawet lidah buaya, es dawet hitam, es dawet durian, dan lain-lain.

Penerimaan masyarakat yang semakin baik serta meningkatnya gengsi es dawet, mendorong produk ini semakin dikenal luas oleh masyarakat kalangan menengah ke atas. Tak heran jika saat ini es dawet banyak diperjualbelikan di berbagai kafetaria, restoran mewah, dan hotel berbintang.

Cara pembuatan

Intinya es dawet terdiri atas dua bagian, yaitu dawet dan kuah. Bahan utamanya tepung beras yang biasanya dicampur tepung tapioka atau tepung sagu. Campuran tepung ini membuat tekstur dawet atau cendol menjadi sedikit kenyal. Bagian kuah terbuat dari santan dan gula merah aren. Komposisi gizi bahan-bahan penyusun es dawet dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi zat gizi per 100 gram bahan-bahan penyusun es dawet
Komposisi Tepung beras Tepung tapioka Tepung sagu Santan Gula merah
Energi (kkal) 364 362 353 122 368
Protein (g) 7,0 0,5 0,7 2 0
Lemak (g) 0,5 0,3 0,2 10 0
Karbohidrat (g) 80 86,9 84,7 7,6 95
Kalsium (mg) 5 0 11 25 75
Fosfor (mg) 140 0 13 30 35
Besi (mg) 0,8 0 1,5 0,1 3
Vitamin A (RE) 0 0 0 0 0
Vitamin B (mg) 0,12 0 0,01 0 0
Vitamin C (mg) 0 0 0 2 0
Air (g) 12 12 14 80 9
Sumber: Direktorat Gizi Depkes RI, 2004

Cara membuat dawet cukup mudah. Mula-mula campuran tepung beras dan tepung tapioka atau tepung sagu diaduk merata, kemudian ditambahkan air dan direbus hingga mendidih dan meletup-letup. Adonan yang masih panas itu dituang ke dalam cetakan cendol, kemudian ditekan-tekan hingga adonan keluar dari cetakan berbentuk bulatan-bulatan agak panjang.

Cendol tersebut ditampung dengan wadah yang di dalamnya berisi es batu dan air dingin, supaya teksturnya menjadi kokoh dan tidak mudah rapuh. Bagian kuah dibuat dengan cara merebus santan kelapa, garam, dan daun pandan hingga mendidih, kemudian didinginkan.

Es dawet biasanya disajikan dengan gelas atau mangkuk. Cara penyajiannya diawali dengan meletakkan beberapa sendok gula merah cair di dasar gelas atau mangkuk, kemudian ditambahkan bagian dawet, irisan nangka, cincau hitam, ketan hitam, tape, dan lain-lain. Setelah itu, ditambahkan santan secukupnya. Agar lebih sedap, sebaiknya disajikan dalam keadaan dingin dengan menambahkan es batu atau es serut.

Dawet terdiri atas bermacam-macam warna. Warna dawet yang paling umum adalah hijau alami yang berasal dari warna hijau ekstrak pandan atau suji. Selain warna hijau, ada juga dawet yang berwarna merah muda atau cokelat yang berasal dari
penggunaan bahan pewarna.

Es dawet biasanya disajikan menggunakan air gula merah aren, sehingga rasanya manis. Sementara rasa es dawet yang gurih berasal dari kuah santan.

Tips Membuat dan Mengonsumsi Es Dawet

Hal-hal ini perlu dipertimbangkan agar pembuatan es dawet sehat dan aman:

1. Kuah es dawet sebaiknya dibuat dengan menggunakan pemanis alami (gula merah atau gula pasir). Es dawet yang menggunakan bahan pemanis buatan terkadang menimbulkan rasa pahit setelah berlalunya rasa manis.

2 Bagian dawet (cendol) sebaiknya dibuat dengan menggunakan bahan pewarna alami, misalnya daun pandan atau daun suji, bukan pewarna sintetis.

Adapun hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengonsumsi es dawet adalah:

1. Pilihlah dawet atau cendol yang berwarna putih atau warna lain yang tidak terlalu menyolok, misalnya hijau muda. Dawet yang berwarna menyolok, seperti hijau tua, merah muda (pink), dan lain-lain, biasanya menggunakan bahan pewarna sintetis.

2. Konsumsilah es dawet yang terbuat dari gula alami, seperti gula merah atau gula pasir. Hindari mengonsumsi es dawet yang terbuat dari bahan pemanis sintetis.

3. Es dawet memiliki nilai indeks glikemik tinggi, sehingga konsumsinya perlu dibatasi oleh penderita diabetes melitus atau yang yang sedang berdiet untuk menjaga berat badan.

4. Untuk membuat es dawet yang lebih sehat, ke dalamnya dapat ditambahkan potongan buah nangka atau buah lainnya. Buah merupakan sumber vitamin, mineral, dan serat pangan yang baik. Adanya serat pangan menyebabkan daya cerna karbohidrat berkurang, sehingga mencegah kenaikan gula darah secara mendadak.

Es Dawet Sebagai Sumber Energi

Kandungan zat gizi es dawet sangat beragam, tergantung jenis dan komposisi bahan yang digunakan, serta cara pembuatannya. Salah satu contoh komposisi zat gizi es dawet dapat dilihat pada Tabel 2. Konsumsi segelas es dawet dapat menyumbangkan energi 95 kkal; protein 0,3 g; lemak 2,1 g, dan karbohidrat 18,3 g.

Tabel 2. Komposisi zat gizi per gelas es dawet
Zat gizi Es dawet
Energi (kkal) 95
Protein (g) 0,3
Lemak (g) 2,1
Karbohidrat (g) 18,3
Serat (g) 0,6
Natrium (g) 3
Kalium (mg) 21,0
Kalsium (mg) 0,
Magnesium (mg) 3
Fosfor (mg) 9
Besi (mg) 0,3
Dari berbagai sumber

Bahan penyusun utama dawet atau cendol adalah tepung beras yang dicampur tepung tapioka atau tepung sagu. Kandungan energi per 100 gram tepung beras, tepung tapioka, dan tepung sagu sangat besar, yaitu berturut-turut sebesar 364, 362, dan 353 kkal.

Selain itu, energi juga dapat berasal dari pemakaian santan kelapa dan gula merah.. Kandungan energi per 100 gram santan kelapa dan gula merah adalah 122 dan 368 kkal.

Es dawet sangat baik dikonsumsi saat berbuka puasa karena karbohidratnya (tepung dan gula) dapat segera diubah menjadi glukosa dan mengembalikan kadar glukosa darah secara cepat. Glukosa tersebut selanjutnya dimetabolisme menghasilkan energi. Energi yang dihasilkan dapat segera memulihkan stamina yang loyo akibat 14 jam berpuasa.

Selain dari tepung dan gula, sumber energi dalam es dawet juga berasal dari kuah santan. Santan yang digunakan biasanya tidak terlalu kental. Kandungan energi per 100 gram santan encer adalah 122 kkal.

Es dawet juga merupakan sumber mineral natrium, kalium, fosfor, magnesium dan besi. Tepung beras, tepung sagu, santan dan gula merah, selain merupakan sumber energi, juga kaya akan mineral. Kalsium dan fosfor merupakan mineral yang berperan dalam pembentukan pertumbuhan dan kesehatan tulang. Sedangkan zat besi sangat penting untuk pembentukan hemoglobin dan mencegah anemia. (fn/bk/cbn) www.suaramedia.com

8 Cara Memilih Pangan Aman Untuk Dikonsumsi

Pangan aman adalah yang bebas dari bahaya fisik, kimia, dan biologis. Bahaya fisik  seperti kerikil, klips, jarum, rambut. Bahan kimia seperti desinfektan, detergen, residu, pestisida, penyalahgunaan formalin, boraks, pewarna tekstil. Bahaya biologis seperti jamur dan bakteri.
Bahan pangan yang kita konsumsi biasanya banyak kita temui baik di pasar tradisional maupun pasar modern. Keduanya memiliki karakteristik masing-masing. Karena itu dibutuhkan ketelitian dalam berbelanja.
Berikut tips memilih pangan aman menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan ( POM ) :
Pangan segar :
  1. Memilih buah yang bersih, segar dan berwarna cerah.
  2. Memilih  sayur berdaun bersih dan masih utuh.
  3. Memilih daging yang berbau segar dan berwarnah merah cerah.
  4. Memilih ikan yang kondisi sisik kuat, mata jernih dan insang yang merah cerah.
  5. Memilih unggas yang segar, tidak berair bila ditekan dan tidak kaku.
Pangan olahan :
  1. Memilih kemasan yang bersih dan utuh, tidak berlubang.
  2. Memilih kemasan yang tidak kembung dan tidak penyok.
  3. Baca dengan teliti label kemasan. Label pangan setidaknya memuat nama produk, komposisi, berat/isi, tanggal kadaluarsa, nama dan alamat produsen/importir. Distributor serta nomor registrasi.

Sepuluh Langkah untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan

I. MENGUPAYAKAN PERAN BULOG
BULOG masih merupakan salah satu institusi terpenting dalam menjamin
ketahanan pangan di Indonesia. Perubahan status hukum BULOG pada tahun
2003 dari Badan menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah
memperluas lingkup BULOG untuk melakukan aktivitas komersil sebagai
bagian dari peran pentingnya dalam pelayanan jasa publik. Tugas BULOG
termasuk menjaga stok ketahanan pangan nasional, pendukung publik dalam
menjaga harga-harga komoditas pertanian, menyediakan pangan dalam
keadaan darurat, dan melaksanakan program subsidi beras RASKIN bagi
masyarakat miskin. Pengawasan pemerintah pusat terhadap sejumlah
pelayanan BULOG, yang selama ini dilakukan oleh BULOG sendiri, telah
dialihkan ke dalam tugas Kementrian Keuangan dan Kementrian BUMN,
dimana keduanya memiliki keterbatasan kapasitas dan pengalaman dalam
hal manajemen dan kebijakan ketahanan pangan. Namun demikian BULOG
masih tetap melakukan fungsi tersebut selama lebih dari setahun terakhir,
meski tanpa adanya persetujuan mengenai rencana usaha maupun dalam
penyusunan anggaran, walaupun sebenarnya kedua hal tersebut dibutuhkan
sebagai payung hukum.
Pemerintahan yang baru harus memperkuat pengawasan terhadap peran
BULOG melalui Kementrian Keuangan dan Kementrian BUMN dengan cara:
1. Membangun prosedur pengesahan laporan keuangan, rencana
usaha dan anggaran tahunan BULOG
2. Mulai membangun mekanisme penyediaan dan kontrak alternatif dengan pihak penyelenggara lain, untuk mendapatkan
perbandingan atas pelayanan publik yang selama ini dilakukan
BULOG, termasuk biaya yang timbul dalam pelayanan tersebut.
3. Membentuk komisi independen yang bertugas memantau stok
aman kebutuhan beras nasional.
4. Menghitung secara akurat biaya penyediaan program RASKIN dan
mengkaji ulang kontrak antara pemerintah dengan BULOG.

II. MENGKAJI KEMUNGKINAN DIPISAHKANNYA BADAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL
DARI KEMENTRIAN PERTANIAN
Kebijakan ketahanan pangan nasional membutuhkan keseimbangan yang tepat
antara keinginan konsumen dan produsen. Dewan Ketahanan Pangan Nasional,
yang diketuai oleh Presiden, didukung penuh oleh Badan Ketahanan Pangan
Nasional dibawah Menteri Pertanian. Meski sejauh ini dewan tersebut
menunjukkan kinerja yang cukup baik, susunan struktur seperti ini dapat
menghadapi sejumlah kesulitan dimana Kementrian Pertanian pada dasarnya
akan cenderung lebih menanggapi kemauan petani ketimbang keinginan
konsumen pangan. MPR telah mempertimbangkan kemungkinan tersebut dan,
melalui Keputusan MPR No 8/2003, menginstruksikan presiden untuk mengkaji
kemungkinan BKP dijadikan sebagai lembaga yang terpisah dari Kementrian
Pertanian. Permintaan MPR tersebut membutuhkan tanggapan yang yang cukup
serius. Jika pemindahan itu memang harus dilakukan, hal tersebut harus
direncanakan secara matang, mengingat telah terjadi sejumlah perubahan
susunan institusi ketahanan pangan dan koordinasi antar lembaga di tahuntahun
belakangan ini. Yang terpenting dalam hal ini ialah perubahan tersebut
tidak menghilangkan kapasitas institusi yang telah ada sebagai akibat
perencanaan yang tidak matang.

III. MENINGKATKAN EFEKTIVITAS DEWAN KETAHANAN PANGAN
DI TINGKAT KABUPATEN/KOTA
Peraturan Pemerintah tahun 2000 mengenai ketahanan pangan memberikan
suatu kerangka dimana pemerintah daerah dapat berkontribusi dalam
mencapai tujuan ketahanan pangan nasional. PP ini mengatur bahwa
pemerintah sub-nasional turut bertanggung jawab terhadap ketahanan
pangan dalam wilayah mereka masing-masing. Beberapa kabupaten/kota telah
membentuk Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota. PP tersebut juga
mendefinisikan kebutuhan pangan pokok secara luas, hal ini dimaksudkan
untuk memberikan keleluasaan bagi perbedaan pola makanan yang tercermin
dalam ukuran-ukuran ketahanan pangan pada tingkat daerah. Dengan
demikian beras tidak harus diberi penekanan khusus di daerah dimana
terdapat makanan pokok lainnya. Ini merupakan gambaran yang baik dari
sistem yang sedang terbentuk, namun demikian kurangnya kapasitas
kemampuan Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota membuat mereka
hanya cenderung sekedar mengikuti agenda-agenda tertentu dan terlibat
dalam pengadaan serta penyimpanan kebutuhan pokok yang tidak efektif.
Ini menjadi catatan penting bagi pemerintah pusat untuk memberikan
petunjuk dan pengembangan kapasitas kemampuan agar Dewan Ketahanan
Pangan Kabupaten/Kota berfungsi secara efektif.

IV. MENGHILANGKAN LARANGAN IMPOR BERAS
Pada Januari 2004 Kementrian Industri dan Perdagangan mengumumkan
larangan atas impor beras mulai dari dua bulan sebelum hingga satu bulan sesudah periode panen. Larangan ini secara berulang diperluas dan masih
terus digunakan. Tujuan utama dari larangan tersebut dimaksudkan untuk
mendukung para petani dan meningkatkan ketahanan pangan. Namun
demikian kenyataan yang terjadi justru sebaliknya-harga eceran terus naik
namun harga di tingkat petani tidak berubah, yang menunjukkan bahwa
petani tidak memperoleh manfaat sesuai dengan harapan. Artinya, ketahanan
pangan bagi kebanyakan orang menjadi lebih buruk. Sekitar 80 % penduduk
mengkonsumsi beras lebih banyak dari yang diproduksinya, dan terbebani
harga beras yang tinggi. Sementara di lain pihak, 20 % penduduk lainnya
yang memperoleh keuntungan dari kebijakan ini, ternyata bukanlah
masyarakat miskin. Studi terakhir menunjukkan bahwa larangan impor secara
permanen dapat meningkatkan jumlah penduduk dibawah garis kemiskinan
sebanyak 1,5 juta orang.
Pemerintahan yang baru sebaiknya menghapus larangan impor dan
membiarkan impor beras oleh para importir seperti sebelumnya.
Memproteksi beras justru memperburuk ketahanan pangan. Namun jika
proteksi dianggap penting secara politis hal itu dapat ditempuh melalui
bentuk yang lebih transparan dan efisien seperti dengan menerapkan bea
masuk yang rendah ketimbang memberlakukan larangan impor.

V. MENGUBAH FOKUS DEPARTEMEN PERTANIAN DARI MENDORONG PENINGKATAN
PRODUKSI KE PERLUASAN TEKNOLOGI DAN PENCIPTAAN DIVERSIFIKASI
Kebijakan harga beras yang tinggi juga memiliki keterbatasan untuk
meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan: Bagi produsen beras yang
produksinya lebih tinggi dari konsumsi, dukungan melalui sejumlah
kebijakan proteksi akan memberikan peningkatan pendapatan dalam waktu
seketika; namun tidak mendorong pertumbuhan pendapatan yang
berkelanjutan, ketika produktivitas pertanian beras domestik telah mencapai
titik yang cukup tinggi. Akan lebih baik bagi Departemen Pertanian untuk
memusatkan perhatian pada peningkatan produktivitas di sejumlah produkproduk
pertanian secara lebih luas. Sebagaimana kita ketahui, konsumsi
pangan disetiap kelompok pengeluaran rumah tangga telah bergerak menuju
pangan dengan kualitas yang lebih baik. Dengan pertumbuhan seperti
sekarang ini, konsumsi rumah tangga pada buah-buahan dan sayur-sayuran
kecenderungannya akan melebihi nilai konsumsi beras dalam dekade ini.
Kebijakan pertanian saat ini terlalu berkonsentrasi pada pemenuhan beras,
dimana nilainya cenderung rendah dan termasuk komoditas yang murah di
pasaran internasional. Hal ini telah memaksa petani untuk menanam
komoditas yang bernilai rendah serta menghambat upaya mereka untuk
berpindah pada produksi buah-buahan, hortikultura dan perternakan yang
bernilai tinggi. Di saat bersamaan pertumbuhan permintaan domestik
terhadap produk-produk ini semakin meningkat. Kebijakan pertanian harus
bergerak secara agresif menuju suatu penelitian dan agenda pengembangan
yang menaruh perhatian pada komoditas bernilai tinggi dan produk-produk
yang permintaannya tumbuh tinggi. Kebijakan tersebut juga dapat diusahakan
untuk membantu produsen kecil dalam memenuhi standar kualitas pada
pasar-pasar yang sedang terbentuk, serta untuk memperoleh akses pada rantai
pasokan pangan yang saat ini banyak dilayani oleh jaringan supermarket.

VI. MENURUNKAN BIAYA RASKIN (DOWNSCALE RASKIN)
Program RASKIN dimaksudkan sebagai salah satu program penting
pemerintah untuk mendukung ketahanan pangan dengan memasok sekitar
20 kg beras per bulan kepada 9 juta keluarga miskin. Fakta yang ada
menunjukkan bahwa program tersebut teramat mahal, menghabiskan sekitar
Rp. 4,8 trilliun pada tahun 2004, dan relatif buruknya sasaran yang harus
dicapai, menyebabkan manfaat yang diperoleh masyarakat miskin sangat kecil.
Secara rata-rata, rumah tangga menerima sekitar 6 sampai 10 kg beras dan
bukan 20 kg, disebabkan karena beras tersebut didistribusikan secara merata
baik pada rumah tangga yang tidak miskin maupun rumah tangga miskin.
Akibatnya, rata-rata nilai subsidi yang diberikan kepada masyarakat miskin
melalui program ini hanya sekitar 2,1 % dari pengeluaran perkapita; jauh
lebih kecil pada masyarakat yang tidak miskin. Kemudian juga kebanyakan
subsidi tersebut tidak pernah sampai pada rumah tangga yang tepat, karena
kebanyakan dana itu menjadi biaya operasional BULOG. Pada tahun 2004
pemerintah mengeluarkan sekitar Rp 3.343 untuk setiap kilogram beras yang
diberikan melalui BULOG, meski pada kenyataannya penyediaan beras oleh
pihak swasta dapat diperoleh pada tingkat harga Rp. 2.800. Dari keseluruhan
dana anggaran BULOG untuk pogram RASKIN hanya sekitar 18% yang tepat
sasaran kepada masyarakat miskin.
Meski terdapat sejumlah permasalahan pada program Raskin- program ini
merupakan salah satu dari sedikit program dengan lingkup nasional dan
memiliki infrastruktur organisatoris yang berperan penting pada waktu
terjadinya gangguan pangan. Penghapusan program RASKIN, bukanlah suatu
cara yang tepat. Meski demikian juga penting untuk memikirkan reformasi
yang radikal berkaitan dengan program ini, antara lain:
1. Mensosialisasikan dan melaksanakan target dari program RASKIN kepada
masyarakat, dengan demikian masyarakat perdesaan dapat memahami
bahwa distribusi program ini hanya diperuntukan bagi penduduk yang
benar-benar miskin. Sekali lagi hal ini akan lebih mudah bila program
ini memang tepat sasaran.
2. Menciptakan dasar biaya penyelenggaraan program RASKIN dan merevisi
anggaran untuk program ini.
3. Memperluas penggunaan metode sasaran mandiri (self-targeting) oleh
masyarakat miskin itu sendiri, misalnya melalui paket RASKIN yang lebih
kecil jumlahnya dan frekwensi pemberian yang lebih sering.
Sasaran program RASKIN semestinya berjumlah lebih kecil dan biayanya jauh
lebih murah. Melalui perbaikan sasaran, program tersebut masih tetap
memiliki dampak yang lebih baik bagi masyarakat miskin.

VII. MEMIKIRKAN KEMBALI KEBIJAKAN STABILISASI HARGA BERAS
Langkah tradisional pemerintah dalam meningkatkan keterjangkauan pangan
umumnya ditempuh dengan cara menstabilisasikan harga beras. Hal ini
dilakukan melalui kebijakan harga pagu dan membeli beras di pasar dengan
maksud mempertahankan tingkat harga tersebut. Meski demikian
ketidakmampuan BULOG dalam mempertahankan harga pagu tersebut telah
menjadi hal yang umum dan keterlibatan pemerintah didalam pasar, telah
menghambat pengembangan mekanisme penyesuaian harga oleh pihak swasta (seperti melalui mekanisme penyimpanan). Upaya pemerintah
menstabilisasikan harga mungkin cukup tepat di masa yang lampau, akan
tetapi sekarang ini rantai pemasaran swasta telah cukup berkembang dan
sejumlah keterlibatam pemerintah pada dasarnya tidak diperlukan. INPRES
No 9 tahun 2001 mengubah kebijakan sebelumnya dari menerapkan harga
pagu menjadi penerapan harga pembelian oleh pemerintah. Pemerintahan
yang baru harus memusatkan perhatian pada implementasi dari isi INPRES
ini dengan mengkaji ulang apakah mungkin dan jika memang demikian,
bagaimanakah caranya untuk menstabilisasikan harga beras tanpa
menghambat aktivitas sektor swasta.

VIII. MENDUKUNG DAN MENERAPKAN PENINGKATAN GIZI PADA BAHAN MAKANAN POKOK
Peningkatan gizi makanan, seperti melalui aturan penambahan yodium
pada produksi garam atau dengan mengharuskan produsen untuk
menambah sejumlah nutrisi mikro ke dalam produk makanan mereka,
merupakan cara yang cukup efektif dalam meningkatkan standar gizi.
Pemerintah telah melakukan hal ini dengan mendukung penggunaan
garam beryodium dan peningkatan gizi tepung terigu. Akan tetapi kondisi
gizi yang buruk masih merupakan persoalan utama. Sebagai contoh
sekitar 63 % wanita hamil dan sekitar 65-68 % anak dibawah 2 tahun
menderita anemia disebakan karena kekurangan zat besi. Sementara itu
lebih dari seperempat rumah tangga belum mengkonsumsi garam
beryodium yang cukup.
Pemerintahan baru dapat meningkatkan kondisi gizi masyarakat dengan
mendorong dan menerapkan standar pemenuhan produksi pangan yang
bergizi. Sebagai contoh, di beberapa daerah produksi garam oleh
sejumlah produsen kecil lokal didukung oleh pemerintah setempat,
sekalipun hasil produksinya masih belum memenuhi standar yodium
nasional. Pemerintah pusat harus bekerjasama dengan pemerintah daerah,
produsen serta konsumen, untuk mendapatkan cara yang efektif dalam
menjamin pemenuhan gizi (meningkatkan kadar yodium) tanpa harus
merusak pendapatan produsen lokal. Hasil yang dicapai oleh Proyek
Penanggulangan Defisiensi Yodium (Intensified Iodine Deficiency Control
Project) menunjukkan bahwa cara ini dapat ditempuh dan telah berhasil
mengurangi lebih dari 50% angka penderita gondongan pada periode
1996 dan 2003 diantara anak-anak sekolah yang berada di provinsiprovinsi
dengan endemi gondongan yang parah maupun moderat.
Menerapkan regulasi yang transparan juga menjamin bahwa investasi
untuk memenuhi standar gizi pada produk makanan tidak akan dikurangi
karena adanya produsen yang tidak memenuhi standar gizi pada produk
makanan mereka. Kerjasama antar lembaga amat dibutuhkan melalui
intervensi yang mencakup industri pengolahan makanan (dibawah
Menperindag), impor (Kepabeanan/Bea Cukai), pengawasan penjualan
makanan (BPOM), pemasaran secara sosial (Menkes) dan pemerintahan
daerah (Mendagri). Kerjasama harus bertujuan untuk membangun
mekanisme perlindungan terhadap produk makanan tertentu, pilihan uji
gizi produk makanan serta mekanisme penyediaannya dan membentuk
kemitraan dengan produsen sektor swasta dan para pemasok produk
makanan yang dilindungi. Kerjasama ini juga dapat ditujukan untuk
menciptakan standarisasi produk dan aturan-aturan produksi, serta
memberikan pengawasan dan evaluasi terhadap penyediaan produk
makanan, disamping mengawasi dampaknya terhadap produk makanan
yang dilindungi bagi sejumlah penduduk.

IX. FOKUSKAN KEMBALI PERHATIAN PADA PROGRAM MAKANAN TAMBAHAN
Program makanan tambahan yang tepat sasaran amat berperan penting
dalam peningkatan gizi. Program makanan tambahan diperkenalkan
setelah krisis sebagai bagian dari jaringan pengamanan sosial ( JPS). Nilai
anggaran untuk program ini pada tahun 2004 meningkat hingga Rp 120
milliar untuk memasok dan mendistribusikan MP-ASI yang diproduksi
secara lokal, yaitu sejenis makanan tambahan utama dalam program
tersebut. Meski demikian bukti yang diperoleh menunjukkan bahwa
cakupan program tersebut amat rendah dan tidak tepat sasaran. Sebuah
studi menunjukkan bahwa sekitar 14% penduduk seperlima terkaya dan
17% penduduk seperlima termiskin yang sama-sama menerima program
makanan tambahan. Pemerintah harus merevisi dan memfokuskan sasaran
program untuk ditujukan pada masyarakat yang mengalami kemiskinan
yang kronis dan berada pada situasi yang amat buruk.

X. MENINGKATKAN INFORMASI MENGENAI GIZI
Survei menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan gizi yang lebih baik
menyiapkan lebih banyak gizi dan vitamin pada setiap makanan dalam
rumah tangga. Pengetahuan ibu akan gizi tidaklah terkait erat dengan
tingkat pendidikan formal mereka maupun tingkat pendapatan. Ini
menunjukkan bahwa kampanye mengenai informasi tentang gizi dapat
meningkatkan kualitas menu makanan. Apalagi ketersediaan bahan
makanan yang bergizi pada pasar lokal, telah cukup meningkat. Di masa
lalu jaringan posyandu merupakan salah satu jaringan yang paling efektif
untuk memberikan informasi tentang gizi kepada kaum ibu, namun
cakupan geografis dan kualitas penyampaian informasi gizi melalui
posyandu kini mengalami penurunan.
Sementara program revitalisasi posyandu perlu mendapat perhatian,
terpantau adanya sejumlah kendala pada anggaran dan sumber daya
manusia, terutama berkaitan dengan masalah desentralisasi. Selain itu,
penyelenggara jasa informasi alternatif juga mampu memberikan
pelayanan yang lebih baik. Sehingga tujuan untuk membangun kembali
jaringan secara nasional yang pernah ada, seperti posyandu, mungkin
bukan suatu hal yang tepat. Akan lebih baik jika penyampaian informasi
sosial mengenai gizi menempuh jalur altenatif yang tersedia, khususnya
melalui saluran televisi dan radio.

Jumat, 10 Desember 2010

HARI PANGAN SEDUNIA


Hari pangan dunia yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober merupakan sebuah momen agar masyarakat dunia dapat memikirkan sejenak dan ikut bertanggung jawab mengenai kondisi pangan dunia. Dibeberapa negara miskin, negara berkembang maupun negara yang terkena musibah dan konflik ketersediaan dan kecukupan pangan masih menjadi masalah utama. Masyarakat dunia harus sadar dan bersama-sama membantu mereka yang kelaparan.
Tahun ini Badan pangan Perserikatan Bangsa bangsa FAO menetapkan tema HPS yaitu United Against Hungry (bersama-sama melawan kelaparan). Data FAO menyebutkan orang lapar di dunia telah mencapai ambang batas yaitu 1 milyar orang, menurut Direktur Jenderal FAO Jacques Diouf ini merupakan “Prestasi tragis di zaman modern”. Salah satu penyebab “Prestasi” ini yaitu dampak dari krisis keuangan global thn 2008 yang menyebabkan melonjaknya harga pangan, dan beberapa bencana alam yang terjadi belakangan ini. Dengan peringatan hari pangan sedunia ini diharapkan agar semua negara, organisasi-oraganisasi mayarakat dan sektor swasta bersama-sama memerangi kelaparan dan kekurangan gizi.
Kecukupan pangan dunia juga dibenturkan pada beralihnya pemanfaatan sumber energi dari minyak bumi ke bahan baku yang dapat terbarukan (renewable). Dalam satu dekade ini 10% hasil pertanian dimanfaatkan untuk industri bioenergi ataupun pemanfaatan industri lainnya. Diperkirakan dalam satu dekade kedepan pemanfaatan hasil pangan untuk dikonversi menjadi bahan bakar akan mencapai 15%. Pemanfaatan hasil pertanian memang merupakan satu-satunya alternatif untuk menyediakan mengantisipasi berkurangnya minyak bumi dunia yang tak dapat diperbaharui.
Di Indonesia, peringatan hari pangan tahun ini akan dipusatkan di NTB. Kita berharap saja dengan peringatan hari pangan kali ini kita semua sadar akan potensi alam negara kita. Potensi alam ini jika dihitung kasat mata mampu mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya. Namun tetap saja di tiap sudut daerah masih saja ada orang-orang yang kelaparan dan baru saja kita mendengar 42 kasus busung lapar dan gizi buruk di Prov Riau yang merupakan daerah kaya sumber daya alam, penghasil 1/2 dari devisa migas di Indonesia.
Pada masa awal pembentukan Badan Ketahanan Pangan, ada yang beranggapan ketahanan pangan bukanlah pilihan kata yang cocok, yang cocok adalah kemandirian pangan, karena prinsip ketahanan pangan adalah tersedianya pangan yang cukup, caranya teserah, apakah mau diproduksi atau diimpor. Sedangkan kemandirian pangan berarti ketersediaan pangan yang berasal dari dalam negeri sendiri, dengan kata lain semuanya swasembada. Seharusnya Indonesia memang mampu!. Untuk orang-orang yang perutnya bisa kenyang tiap hari mungkin masih bisa saja memusingkan istilah-istilah itu, namun sebagian masyarakat yang jarang kenyang, istilah ketahanan atau kemandirian pangan itu urusan ke-87.
Fenomena lainnya, hasil penelitian dari badan ketahanan pangan menyatakan masyarakat indonesia lebih memilih mencicil motor atau membeli pulsa jika memperoleh pendapatan tambahan ketimbang memenuhi atau melengkapi kecukupan gizinya maupun keluarganya. Masyarakat kita sudah masuk kategori masyarakat pesolek. Masalah gizi meskipun berkaitan dengan masalah kekurangan pangan, namun pemecahannya tidak selalu peningkatan produksi ataupun pengadaan pangan. Masalah gizi umumnya muncul akibat ketahanan pangan ditingkat rumah tangga, yaitu peran keluarga dalam mengelolah ketercukupan dan mutu dari makanan. Oleh sebab itu masalah pangan dan gizi merupakan permasalahan kompleks yang melibatkan aspek kesehatan, kemiskinan, ekonomi, kesempatan kerja dan pemerataan.
Masih saja ada sentilan kecil dari pola makan orang Indonesia, bahwa orang Indonesia makan untuk kenyang, bukan untuk sehat. Itulah sebabnya Mie instant laris manis di negara kita, dibuat untuk sepraktis mungkin untuk megenyangkan. Seberapa besar masyarakat kita ketika membeli produk makanan melihat informasi kandungan gizi yang berada dikemasan produk? bahkan yang lebih menggelikan lagi beberapa produk makanan mengecoh konsumen dengan mengiklankan produknya bebas dari mono sodium glutamat (MSG), namun ketika dilihat kemasannya terdapat mono natrium glutamat.. Apa bedanya sodium dan natrium? natrium bahasa latin dari sodium atau garam Na.
Permasalahan gizi di negara berkembang pada umumnya masih didominasi oleh Kekurangan Energi Protein (KEP), masalah kekurangan zat besi (penyebab anemia), kekurangan vitamin A, dan gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY). Namun salah satu permasalah gizi lainnya yaitu obesitas. Belum selesai masalah kukurangan gizi, muncul lagi masalah baru yaitu kelebihan gizi. Perbandingan konsumsi ikan di indonesia yang hanya mencapai 26 kg/kapita/tahun, bandingkan dengan malaysia yang mencapai 45 kg, dan jepang mencapai 60 kg. Konsumsi buah-buahan kita hanya mencapai 40,06 kg/kapita/tahun, bandingkan dengan Jepang 120 kg, amerika 75 kg dan rekomendasi FAO 65 kg. Padahal negara ini adalah maritim dan agraris.
Dalam rangka hari pangan sedunia, sudah saatnya kita merefleksikan diri sejenak akan pentingnya ketersediaan dan mutu pangan, khususnya di tingkat keluarga. Program diversifikasi pangan harus terus digalakkan mengingat beranekaragamnya makanan-makanan tradisional yang sempat terlupakan akibat program NASI-onalisme (gerakan wajib makan nasi di Indonesia) dijaman orde baru dulu. Pemerintah sendiri harus menjamin ketersediaan input produksi pertanian, memastikan sumber pembiayaan bagi pertanian dan membangun industri pertanian.


Aku bertanya kepadamu, sedangkan rakjat Indonesia akan mengalami tjelaka, bentjana, mala-petaka dalam waktu jang dekat kalau soal makanan rakjat tidak segera dipetjahkan, sedangkan soal persediaan makanan rakjat ini, bagi kita adalah soal hidup atau mati…… Tjamkan, sekali lagi tjamkan, kalau kita tidak “ampakkan” soal makanan rakjat ini setjara besar-besaran, setjara radikal dan revolusioner, kita akan mengalami tjelaka (Soekarno 1952, Presiden RI Pertama).



Selasa, 07 Desember 2010

khasiat buah apel


Apel adalah salah satu buah yang mudah ditemui di berbagai belahan penjuru dunia. Diperkirakan ada kurang lebih tujuh ribu jenis buah apel di seluruh dunia. Meskipun bentuk, ukuran, warna, rasa, serta tekstur masing-masing jenis apel berbeda, namun pada umumnya buah ini berbentuk bulat dengan cekungan pada pangkal pucuknya. Dagingnya berwarna putih, renyah, berair dengan rasa manis atau asam, dan dilindungi oleh kulit tipis yang biasanya berwarna mengkilap. Bila dikerat, akan keluar aroma yang harum dan segar, walau ada sebagian yang beraroma tajam.
Satu porsi buah apel banyak mengandung kalium, pektin, dan selulosa. Pektin banyak terdapat pada daging buah apel dan merupakan salah satu serat yang tidak larut dalam air. Sedangkan selulosa banyak terdapat pada kulit buah apel dan merupakan serat yang larut dalam air. Kalium sendiri banyak terdapat pada buah apel yang berwarna merah.
Berikut ini khasiat dan manfaat dari buah apel:
  • Mengurangi resiko stroke.
    Kalium merupakan mineral yang berfungsi untuk meningkatkan keteraturan denyut jantung, mengaktifkan kontraksi otot, mengatur pengiriman zat gizi ke sel-sel, mengendalikan keseimbangan cairan dalam jaringan dan sel tubuh, serta membantu mengatur tekanan darah. Menurut penelitian, satu porsi buah apel mampu menurunkan resiko terkena stroke hingga 40%.
  • Alternatif makanan berenergi bagi pelaku diet dan mengontrol penyakitkencing manis.
    Pektin dapat membentuk gel dalam usus sehingga waktu yang dibutuhkan sisa makanan untuk bergerak dari mulut ke anus menjadi lebih lama dan seseorang menjadi lebih lama merasa kenyang. Selain itu, ia juga mampu memperlambat masuknya glukosa dari pencernaan karbohidrat ke aliran darah sehingga dapat mengontrol penyakit kencing manis.
  • Mengurangi resiko serangan jantung.
    Pektin juga dapat mengikat berbagai zat, termasuk kolesterol, dan mengurangi penyerapan dari saluran usus. Bentuk serat ini dapat menurunkan tingkat kolesterol darah. Menurut penelitian, kadar pektin pada apel dapat menurunkan kandungan kolesterol LDL hingga 10% serta menurunkan kandungan kolesterol HDL hingga 20%, dimana keduanya merupakan penyebab serangan jantung.
  • Membersihkan gigi.
    Rasa renyah apel dapat membantu melepaskan bahan-bahan yang lengket di gigi, sekaligus memicu pengeluaran air liur, sehingga mampu membersihkan gigi.
Perlu diperhatikan bahwa apel yang sudah diolah biasanya struktur seratnya sudah rusak, sehingga, jika untuk keperluan kesehatan / pengobatan, sebaiknya mengkonsumsi apel yang segar, bukan olahan.
 
Sumber : www.khasiatbuah.com

Senin, 06 Desember 2010

Antisipasi Krisis Pangan

Hanya selang beberapa tahun, isu krisis pangan sudah menghantui kembali banyak negara pada saat ini.
Sebelumnya, ketika harga minyak naik dan terjadi krisis energi, ketersediaan pangan terganggu karena pasokan energi dikerahkan dari energi hijau sehingga mengurangi lahan untuk tanaman pangan. Produksi pangan bersinggungan dan bersaing dengan produksi tanaman untuk energi hijau. Tidak hanya itu, krisis energi beberapa tahun lalu memicu harga pangan naik sehingga akses golongan bawah terhadap pangan menurun. Beberapa negara akhirnya juga menghadapi masalah dan krisis sosial politik karena protes sosial dari masyarakat golongan bawah tersebut. Krisis pangan akhirnya mengguncang suatu sistem pemerintahan dan politik.
Itulah gambaran betapa pentingnya memastikan keamanan pangan di dalam negeri. Isu ini terkait kenyataan akhir- akhir ini di mana ketersediaan pangan dunia mulai mengkhawatirkan. Isu pangan dunia kembali hangat dan mulai banyak pihak mengingatkan kemungkinan krisis pangan yang bisa menimpa sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Kompleksitas dan ancaman krisis pangan saat ini bukan hanya disebabkan oleh pertambahan penduduk dunia yang makin sulit dikendalikan, tetapi lebih dari itu, kondisi alam saat ini juga kurang bersahabat dengan sektor pertanian. Berbagai bencana alam yang terjadi di negara-negara yang terkenal sebagai lumbung pangan menyebabkan penurunan dalam produksi dan pasokan pangan global.
Perubahan iklim ekstrem di Rusia dengan suhu yang mencapai 38 derajat celsius telah menyebabkan kekeringan pada lahan pertaniannya. Rusia akhirnya membuat kebijakan pengamanan pasokan pangan dalam negeri dengan cara menutup ”keran” ekspornya. Kebijakan dan keputusan Rusia ini berpengaruh terhadap pasar pangan dunia yang cenderung menciut dan tidak fleksibel. Karena alasan politik pangan dan stabilitas pasokan, negara-negara lain terpicu untuk melakukan tindakan dan kebijakan yang sama.
China sebagai salah satu negara lumbung pangan besar sekarang ini juga tengah mengalami bencana banjir sangat besar. Bencana ini merusak lahan pertanian dan menggagalkan sebagian panen padinya. Akibat banjir ini, China memutuskan untuk impor kebutuhan pangannya sebanyak 1 juta ton beras untuk saat ini maupun cadangan beberapa bulan dan beberapa tahun mendatang.
Kebijakan pangan China ini, dan juga Rusia sebelumnya, memicu kenaikan harga beras dunia. Kondisi harga ini diperkirakan akan semakin parah seiring dengan kebijakan Vietnam yang mengambil tindakan serupa dengan langkah Rusia, yakni lebih memprioritaskan kebutuhan domestiknya daripada mengekspor ke negara lain. Padahal, Vietnam adalah bintang pemain baru dalam pasar beras dunia dan termasuk kelompok negara pengekspor yang besar di dunia.
Jangan menggampangkan
Dalam menghadapi keadaan genting pangan dunia dan bahkan ancaman, Pemerintah Indonesia masih bersikap tenang seolah-olah dengan sendirinya pasokan beras dalam negeri bisa mengatasi permintaan dalam negeri. Bahkan, tidak ada kebijakan khusus yang dilakukan sebagai tindakan preventif untuk menangkal kemungkinan ancaman krisis pangan tersebut. Tidak ada antisipasi kebijakan yang memadai, hanya pembiaran sebagaimana terjadi pada bidang lain.
Pemerintah—dalam hal ini Bulog—merasa cukup aman dengan cadangan nasional seadanya itu. Pembelian dari petani tidak dilakukan lebih agresif dengan alasan kualitas. Cadangan 1,4 juta ton dianggap cukup untuk lima bulan atau hampir setengah tahun ke depan. Pernyataan ini dan kebijakan pangan yang dijalankan cenderung menggampangkan, padahal negara-negara lain sudah memasang kuda-kuda untuk mengamankan pasokan dalam negeri dengan melarang ekspor, menambah cadangan dari impor, dan kebijakan lain yang bersifat preventif.
Faktor iklim
Masih dengan optimisme, pemerintah memperkirakan luas areal tanam padi di Indonesia pada akhir 2010 akan meningkat dibandingkan Juli 2010. Area tanam pada Juli 2010 seluas 12,25 juta hektar dan akhir 2010 diperkirakan meningkat menjadi 13,45 juta hektar. Tidak salah memprediksikan, tetapi kita tidak melihat upaya kebijakan yang diambil untuk meningkatkan luas area tanam tersebut. Optimisme juga kurang mempertimbangkan kondisi eksternal iklim yang kurang bersahabat dan kondisi sebagian besar pemerintah daerah yang kurang peduli pada masalah keamanan pangan.
Faktor iklim jelas perlu diperhatikan oleh pemerintah karena gejala La Nina yang telah melanda Indonesia. Iklim di Indonesia menjadi tidak jelas, bahkan sangat tidak menentu. Hampir setiap bulan banyak wilayah dilanda hujan sehingga air sangat melimpah. Kecukupan air tidak berarti otomatis meningkatkan produksi padi. Di wilayah beririgasi teknis maupun setengah teknis justru terjadi sebaliknya, yakni penurunan tingkat produktivitas.
Faktor iklim yang ekstrem menimbulkan bencana. Curah hujan yang tidak menentu di banyak negara menimbulkan bencana banjir, seperti China, Korea Selatan, dan Pakistan. Kondisi iklim yang tidak menentu saat ini dan curah hujan yang tinggi akan semakin memperbesar peluang terjadinya bencana.
Faktor iklim mutlak dimasukkan ke dalam kalkulasi kebijakan pangan. Pemerintah tak bisa bertaruh hanya dengan stok seadanya itu sehingga harus mulai mencari alternatif menambah stok beras untuk akhir tahun ini, khususnya dalam menghadapi Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Keamanan pangan dalam negeri tidak bisa dipertaruhkan begitu saja dengan kebijakan yang longgar dan cenderung mengarah pada pembiaran, yang merisaukan.
Masyarakat Indonesia tidak pernah bisa menurunkan level konsumsinya terhadap beras. Beras sudah mendarah daging dan bagian penting dalam budaya masyarakat. Komoditas ini tidak tergantikan sehingga tingkat konsumsinya masih tergolong sangat tinggi. Pasokan dan cadangan beras pada saat ini menjadi penting mengingat kondisi eksternal juga cukup genting.
Oleh karena itu, dalam merespons kebijakan negara lain dan karena secara alamiah pasar beras internasional tipis sekali, maka tambahan stok beras Bulog bisa dilakukan dengan cara mengimpor dari luar. Kebijakan impor juga diperlukan karena alasan dalam beberapa tahun ini harga beras meningkat tajam, naik lebih dari 100 persen sejak tahun 2005/2006.

Sumber : KOMPAS

Fakta Baru Pangan Organik

Gaya hidup sehat dengan cara kembali ke alam sedang menjadi trend baru sebagian masyarakat kita. Kini bahan pangan organik mulai diminati banyak orang. Memang relatif lebih mahal, namun sebanding dengan manfaat yang didapat. Apalagi fakta penelitian terbaru menunjukan keunggulan nutrisi dari bahan pangan organik.
Saat ini kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat mulai meningkat. Pola makan tinggi lemak, tinggi kalori dan rendah serat mulai ditinggalkan. Supermarket yang menjual bahan pangan organik mulai laris diserbu pembeli. Gejala positif yang perlu digalakan lebih luas, karena hanya sebagian kecil saja masyarakat kita yang sadar akan pola makan sehat. Diperlukan pengetahuan dan kesadaran diri yang baik untuk merubah gaya hidup.

Sayuran Buruk Rupa

Kepada penulis, Prof.Dr.Ir.Ali Khomsan,MS, ahli gizi IPB, mendefinisikan bahan pangan organik adalah semua bahan pangan yang berasal dari organisme hidup. Organik sendiri mengacu kesesuatu yang mengandung karbon, seharusnya semua bahan pangan yang mengandung unsur karbon disebut organik. Termasuk bahan pakan yang ditanam dengan pupuk kimia dan mengandung pestisida. Tetapi masyarakat taunya kalau istilah organik berarti bahan pangan yang dibudidayakan secara organik, tanpa petisida atau pupuk buatan.

Pemerintah Amerika Serikat sebagai pelopornya bahan pangan organik menetapkan setandar, bahwa yang disebut organik adalah bahan pangan yang 100% organik atau setidaknya 95% diproduksi tanpa pupuk kimia, insektisida, herbisida, antibiotik, hormon pertumbuhan, radiasi untuk sterilisasi dan hewan yang dimodifikasi genetik.
Bahan pangan organik dibudidayakan menggunakan teknologi alami. Kesuburan tanah dipertahankan dengan pupuk alam, seperti kompos dan pupuk kandang. Dengan pemupukan alami dan tanpa insektisida, populasi cacing tanah meningkat, tanah jadi kaya akan nitrogen sehingga subur secara alami. Untuk menanggulangi hama, bisa selang-seling setiap jenis tanamannya sehingga serangan hama tanaman tertentu bisa di putus mata rantainya. Penyemprotan juga dilakukan menggunakan anti hama dari alam.

Budidaya secara alami akan menghasilkan bahan pangan tergolong tidak menarik dari sisi permormance. Seperti yang diutarakan Ali Khomsan, “Bahan pangan organik, terutama sayuran memang mempunyai performance yang tidak menarik. Banyak yang berlubang dimakan ulat dan serangga. Namun dari kualitas cita rasa, pangan organik memang lebih baik.” Sekarang konsumen berhak memilih. Membeli bahan pangan konvensional dengan harga murah namun mengandung residu bahan kimia atau sayuran berpenampilan buruk, mahal tetapi aman bagi kesehatan.


Unggul Dalam Nutrisi

Bahan pangan organik tertentu seperti sayuran dan buah, kandungan mineral lebih baik dibandingkan bahan pangan konvesional. Seperti penuturan Ali Khomsan, beberapa penelitian menunjukan sayuran seperti kubis, selada dan tomat kandungan mineral kalsium, pospor dan magnesium jauh lebih tinggi dibandungkan dengan sayuran anorganik. Seperti tomat organik, kandungan kalsiumnya 23 mg sedangkan yang bukan hanya 5 mg. Dari sisi cita rasa, bahan pangan organik juga lebih lezat. Sayuran dan buah organik lebih renyah, lebih manis dan tahan lama. Sedangkan yang bukan, kandungan airnya tinggi, sehingga rasanya kurang manis dan lebih cepat busuk. Sebuah laboratorium independent di Amerika mempunyai fakta berbeda. Penelitian terhadap tepung terigu hasil pertanian organik mengandung 24 % lebih tinggi dibandingkan terigu yang ditanam secara konvensional.

Selain unggul dari sisi nutrisi juga cita rasa, bahan pangan organik juga bebas residu pestisida dan bahan kimia berbahaya. Secara tidak kita sadari, zat ini akan tertimbun terus menerus di dalam tubuh kita. Jangka panjangnya, akan meningkatkan risiko kanker dalam tubuh karena zat tersebut bersifat karsingen penyebab kanker. Lebih baik mencegah dengan beralih ke bahan pangan organik dari pada kita harus membayar lebih mahal untuk biaya kesehatan akibat sakit yang ditimbulkan. Karenanya, gaya hidub back to nature merupakan solusi tepat bagi Anda yang mau hidup sehat.

Sumber :
Budi Sutomo
http://budiboga.blogspot.com/2006/04/fakta-baru-sayuran-organik.html