Senin, 20 Mei 2013

Pangan Fungsional untuk Kesehatan yang Optima


ORANG-orang yang bijaksana sering mengatakan bahwa "kesehatan adalah harta yang paling berharga dalam hidup ini". Sehat dan bugar adalah dua kunci yang sebaiknya dimiliki oleh setiap orang agar hidup ini menjadi lebih bermakna. Untuk mewujudkannya antara lain dapat kita lakukan melalui pengaturan makanan.

DALAM kehidupan modern ini, filosofi makan telah mengalami pergeseran, di mana makan bukanlah sekadar untuk kenyang, tetapi yang lebih utama adalah untuk mencapai tingkat kesehatan dan kebugaran yang optimal. Fungsi pangan yang utama bagi manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan zat-zat gizi tubuh, sesuai dengan jenis kelamin, usia, aktivitas fisik, dan bobot tubuh. Fungsi pangan yang demikian dikenal dengan istilah fungsi primer (primary function).

Selain memiliki fungsi primer, bahan pangan sebaiknya juga memenuhi fungsi sekunder (secondary function), yaitu memiliki penampakan dan cita rasa yang baik. Sebab, bagaimanapun tingginya kandungan gizi suatu bahan pangan akan ditolak oleh konsumen bila penampakan dan cita rasanya tidak menarik dan memenuhi selera konsumennya. Itulah sebabnya kemasan dan cita rasa menjadi faktor penting dalam menentukan apakah suatu bahan pangan akan diterima atau tidak oleh masyarakat konsumen.

Seiring dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, maka tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga kian bergeser. Bahan pangan yang kini mulai banyak diminati konsumen bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta penampakan dan cita rasa yang menarik, tetapi juga harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh. Fungsi yang demikian dikenal sebagai fungsi tertier (tertiary function). Saat ini banyak dipopulerkan bahan pangan yang mempunyai fungsi fisiologis tertentu di dalam tubuh, misalnya untuk menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar gula darah, meningkatkan penyerapan kalsium, dan lain-lain. Semakin tinggi tingkat kemakmuran dan kesadaran seseorang terhadap kesehatan, maka tuntutan terhadap ketiga fungsi bahan pangan tersebut akan semakin tinggi pula.


Apa itu pangan fungsional?

Dasar pertimbangan konsumen di negara-negara maju dalam memilih bahan pangan, bukan hanya bertumpu pada kandungan gizi dan kelezatannya, tetapi juga pengaruhnya terhadap kesehatan tubuhnya (Goldberg, 1994). Saat ini pangan telah diandalkan sebagai pemelihara kesehatan dan kebugaran tubuh. Bahkan bila dimungkinkan, pangan harus dapat menyembuhkan atau menghilangkan efek negatif dari penyakit tertentu.

Kenyataan tersebut menuntut suatu bahan pangan tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan dasar tubuh (yaitu bergizi dan lezat), tetapi juga dapat bersifat fungsional. Dari sinilah lahir konsep pangan fungsional (fungtional foods), yang akhir-akhir ini sangat populer di kalangan masyarakat dunia.

Kepopuleran tersebut ditunjang oleh suatu keyakinan bahwa di dalam pangan fungsional terkandung gizi-gizi dan zat-zat non gizi yang sangat penting khasiatnya untuk kesehatan dan kebugaran tubuh. Fenomena pangan fungsional telah melahirkan paradigma baru bagi perkembangan ilmu dan teknologi pangan, yaitu dilakukannya berbagai modifikasi produk olahan pangan menuju sifat fungsional. Saat ini, di Indonesia telah banyak dijumpai produk pangan fungsional, baik yang diproduksi di dalam negeri maupun impor.

Sejak tahun 1984, Pemerintah Jepang telah menyusun suatu alternatif pengembangan pangan fungsional dengan tujuan untuk memperbaiki fungsi-fungsi fisiologis, agar dapat melindungi tubuh dari penyakit, khususnya penyakit degeneratif seperti jantung koroner, hipertensi, diabetes, osteoporosis, dan kanker. Diharapkan dengan pengembangan pangan fungsional dapat meningkatkan derajat kesehatan serta menekan biaya medis bagi masyarakat Jepang.

Sampai saat ini belum ada definisi pangan fungsional yang disepakati secara universal. The International Food Information (IFIC) mendefinisikan pangan fungsional sebagai pangan yang memberikan manfaat kesehatan di luar zat-zat dasar. Menurut konsensus pada The First International Conference on East-West Perspective on Functional Foods tahun 1996, pangan fungsional adalah pangan yang karena kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, di luar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya.

Definisi pangan fungsional menurut Badan POM adalah pangan yang secara alamiah maupun telah melalui proses, mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajian-kajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan. Serta dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan atau minuman, mempunyai karakteristik sensori berupa penampakan, warna, tekstur dan cita rasa yang dapat diterima oleh konsumen. Selain tidak memberikan kontraindikasi dan tidak memberi efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap metabolisme zat gizi lainnya.

Golongan senyawa yang dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu di dalam pangan fungsional adalah senyawa-senyawa alami di luar zat gizi dasar yang terkandung dalam pangan yang bersangkutan, yaitu: (1) serat pangan (deitary fiber), (2) Oligosakarida, (3) gula alkohol (polyol), (4) asam lemak tidak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acids = PUFA), (5) peptida dan protei tertentu, (6) glikosida dan isoprenoid, (7) polifenol dan isoflavon, (8) kolin dan lesitin, (9) bakteri asam laktat, (10) phytosterol, dan (11) vitamin dan mineral tertentu.

Meskipun mengandung senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan, pangan fungsional tidak berbentuk kapsul, tablet, atau bubuk yang berasal dari senyawa alami (Badan POM, 2001). Pangan fungsional dibedakan dari suplemen makanan dan obat berdasarkan penampakan dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Kalau obat fungsinya terhadap penyakit bersifat kuratif, maka pangan fungsional hanya bersifat membantu pencegahan suatu penyakit.

Persyaratan pangan fungsional

Jepang merupakan negara yang paling tegas dalam memberi batasan mengenai pangan fungsional, paling maju dalam perkembangan industrinya. Para ilmuwan Jepang menekankan pada tiga fungsi dasar pangan fungsional, yaitu:
  1. sensory (warna dan penampilannya yang menarik dan cita rasanya yang enak),
  2. nutritional (bernilai gizi tinggi), dan
  3. physiological (memberikan pengaruh fisiologis yang menguntungkan bagi tubuh).
Beberapa fungsi fisiologis yang diharapkan dari pangan fungsional antara lain adalah:
  1. pencegahan dari timbulnya penyakit,
  2. meningkatnya daya tahan tubuh,
  3. regulasi kondisi ritme fisik tubuh,
  4. memperlambat proses penuaan, dan
  5. menyehatkan kembali (recovery).
Menurut para ilmuwan Jepang, beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh suatu produk agar dapat dikatakan sebagai pangan fungsional adalah: (1) Harus merupakan produk pangan (bukan berbentuk kapsul, tablet, atau bubuk) yang berasal dari bahan (ingredien) alami, (2) Dapat dan layak dikonsumsi sebagai bagian dari diet atau menu sehari-hari, (3) Mempunyai fungsi tertentu pada saat dicerna, serta dapat memberikan peran dalam proses tubuh tertentu, seperti: memperkuat mekanisme pertahanan tubuh, mencegah penyakit tertentu, membantu mengembalikan kondisi tubuh setelah sakit tertentu, menjaga kondisi fisik dan mental, serta memperlambat proses penuaan.

Dari konsep yang telah dikembangkan oleh para ilmuwan, jelaslah bahwa pangan fungsional tidak sama dengan food supplement atau obat. Pangan fungsional dapat dikonsumsi tanpa dosis tertentu, dapat dinikmati sebagaimana makanan pada umumnya, serta lezat dan bergizi.

Peranan dari makanan fungsional bagi tubuh semata-mata bertumpu kepada komponen gizi dan non gizi yang terkandung di dalamnya. Komponen-komponen tersebut umumnya berupa komponen aktif yang keberadaannya dalam makanan bisa terjadi secara alami, akibat penambahan dari luar, atau karena proses pengolahan (akibat reaksi-reaksi kimia tertentu atau aktivitas mikroorganisme).

Contoh-contoh komponen aktif yang terdapat secara alami dalam bahan pangan adalah:
  1. nerodiol dan linalool pada teh hijau yang berperan untuk mencegah karies gigi dan mencegah kanker;
  2. komponen sulfur pada bawang-bawangan yang berfungsi untuk mencegah agregasi platelet dan menurunkan kadar kolesterol;
  3. kurkumin pada rimpang kunyit dan l-tumeron pada rimpang temulawak yang berkhasiat untuk pengobatan berbagai penyakit;
  4. daidzein dan genestein pada tempe yang berperan untuk menurunkan kolesterol dan mencegah kanker;
  5. serat pangan (dietary fiber) dari berbagai sayuran, buah-buahan, serealia, dan kacang-kacangan yang berperan untuk pencegahan timbulnya berbagai penyakit yang berkaitan dengan proses pencernaan; serta
  6. berbagai komponen volatil yang terdapat pada bunga melati (jasmin), chrysant dan chamomile yang aromanya sering digunakan sebagai aromaterapi.
Contoh komponen zat gizi yang sering ditambahkan ke dalam bahan makanan adalah:
  1. vitamin A, vitamin E, beta-karoten, flavonoid, selenium, dan seng (zinc) yang telah diketahui peranannya sebagai antioksidan untuk mengatasi serangan radikal bebas yang menjurus kepada timbulnya berbagai penyakit kanker;
  2. asam lemak omega-3 dari minyak ikan laut untuk menurunkan kolesterol dan meningkatkan kecerdasan otak, terutama pada bayi dan anak balita;
  3. kalsium untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi, mencegah osteoporosis (kerapuhan tulang) dan tekanan darah tinggi;
  4. asam folat untuk mencegah anemia dan kerusakan syarat;
  5. zat besi untuk mencegah anemia gizi;
  6. iodium untuk mencegah gondok dan kretinisme (kekerdilan);
  7. oligosakarida untuk membantu pertumbuhan mikroflora yang dibutuhkan usus (bifido bacteria).
Contoh komponen aktif yang keberadaannya dalam bahan pangan akibat proses pengolahan adalah zat-zat tertentu pada produk fermentasi susu (yoghurt, yakult, kefir), fermentasi kedelai, dan lain-lain.

Pangan tradisional yang fungsional

Pangan fungsional dapat berupa makanan dan minuman yang berasal dari hewani atau nabati. Walaupun konsep pangan fungsional baru populer beberapa tahun belakangan ini, tetapi sesungguhnya banyak jenis makanan tradisional yang memenuhi persyaratan untuk disebut sebagai pangan fungsional.

Contoh pangan tradisional Indonesia yang memenuhi persyaratan pangan fungsional adalah: minuman beras kencur, temulawak, kunyit-asam, serbat, dadih (fermentasi susu khas Sumatera Barat), dali (fermentasi susu kerbau khas Sumatera Utara), sekoteng atau bandrek, tempe, tape, jamu, dan lain-lain. Contoh makanan tradisional mancanegara yang dapat dikategorikan sebagai makanan fungsional adalah: yoghurt, kefir, koumiss, dan lain-lain.

Beberapa contoh pangan fungsional modern adalah:
  1. pangan tanpa lemak, rendah kolesterol dan rendah trigliserida;
  2. breakfast cereals dan biskuit yang diperkaya serat pangan;
  3. mi instan yang diperkaya dengan berbagai vitamin dan mineral;
  4. permen yang mengandung zat besi, vitamin, dan fruktooligosakarida;
  5. pasta yang diperkaya dietary fiber;
  6. sosis yang diperkaya dengan oligosakarida, serat atau kalsium kulit telur;
  7. minuman yang mengandung suplemen dietary fiber, mineral dan vitamin;
  8. cola rendah kalori dan cola tanpa kafein;
  9. sport drink yang diperkaya protein;
  10. minuman isotonic dengan keseimbangan mineral;
  11. minuman untuk pencernaan;
  12. minuman pemulih energi secara kilat;
  13. teh yang diperkaya dengan kalsium, dan lain-lain.
Silakan dikonsumsi

Sesuai dengan definisinya bahwa pangan fungsional dapat dikonsumsi tanpa dosis tertentu, maka melibatkan pangan fungsional dalam menu sehari-hari adalah tindakan yang sangat baik dan tepat dari segi gizi. Konsumsi pangan fungsional dapat dilakukan oleh semua kelompok umur (kecuali bayi). Diversifikasi konsumsi pangan fungsional perlu diperkenalkan sedini mungkin sejak masa kanak-kanak, agar setelah dewasa memperoleh manfaat dan khasiat yang optimal, yaitu sehat dan bugar, produktif, mandiri, serta berumur panjang.

Di masa mendatang kehadiran pangan fungsional atau yang diklaim sebagai pangan fungsional akan semakin semarak di Tanah Air kita ini. Sebagai konsumen yang bijak dan sadar akan pentingnya gizi bagi kesehatan, maka selayaknya kita memperhitungkan betul manfaat dari setiap rupiah yang kita keluarkan untuk membeli bahan makanan tersebut.

Kita harus terhindar dari perbuatan membeli makanan yang semata-mata didasari atas pertimbangan selera dan prestise, tetapi tidak berarti bagi pencapaian tingkat kesehatan yang optimal. Membaca label merupakan tindakan yang harus kita lakukan sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk.

Adapun keterangan yang wajib dicantumkan pada label adalah: nama pangan, berat/isi bersih, nama dan alamat perusahaan, daftar bahan yang digunakan, nomor pendaftaran, waktu kedaluwarsa, kode produksi, informasi nilai gizi, keterangan tentang peruntukan (jika ada), cara penggunaan (jika ada), keterangan lain jika perlu diketahui (termasuk peringatan), dan penyimpanan.

Sumber : Made Astawan

Selasa, 16 April 2013

Penggunaan Obat Herbal secara Rasional

Secara umum semua jenis obat herbal memang kecil sekali memiliki efek samping atau bisa dikatakan aman dari efek samping. Namun apakah lantas bebas semaunya sendiri dalam mengkonsumsinya, tidak menggunakan dosis penggunaan?? Tentu tidak! Meskipun aman dari efek samping, konsumsi obat herbal juga harus sesuai aturan dan cara pemakaian. Bahkan jika konsumsi obat herbal ini bersamaan dengan obat kimia dapat mengakibatkan menurunnya efektifitas dari kerja obat kimia tersebut maupun khasiat dari obat herbal itu sendiri. Oleh karena itu, disarankan dalam mengkonsuminya diberikan waktu jeda antara 1 jam lebih sebelum atau sesudah mengkonsumsi obat kimia yang biasa diberikan oleh dokter.



Obat herbal masih jarang digunakan sebagai resep dokter.
Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa sebagian besar dokter di Indonesia ataupun di negara yang lain, sedikit sekali yang menyarankan atau memberikan resep obat herbal sebagai obat untuk menyembukan sakit pasien. Hal ini wajar saja, dikarenakan obat herbal/obat tradisional dalam hirarki kualitas obat memang masih dibawah obat kimia. Kenapa? Hal ini dikarenakan obat herbal belum melalui uji klinis pada hewan uji ataupun pada manusia itu sendiri, sehingga khasiat penyembuhannya masih sebatas didasarkan pada keyakinan secara turun termurun (fakta empiris). Oleh karena itu, tingkat kepercayaan khasiat obat herbal bagi dunia medis masih kalah jauh dibandingkan dengan obat kimia.

Disisi lain, penggunaan obat herbal yang semakin marak di masyarakat memberikan angin optimisme bangkitnya perekonomian nasional, dikarenakan bahan baku pembuatanya berasal dari dalam negeri yang dapat memberdayakan masyarakat untuk membudidayakan dan memanfaatkan sumber daya alam hayati yang telah ada. Selain itu, dari sisi harga konsumen, obat herbal juga memiliki harga yang lebih murah, sehingga pemanfaatannya dapat lebih luas dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat baik dari kalangan ekonomi kelas atas, menengah, ataupun masyarakat kelas bawah.

Maka, sudah seyogyanyalah pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan juga kalangan akademisi sebagai penentu objektif keamanan dan khasiat obat, serta para dokter, apoteker dan tenaga paramedis lainnya untuk mulai menggalakan dan mensosialisasikan penggunaan obat tradisional secara tepat, benar dan rasional, sehingga dapat meminimalisir efek samping dari obat kimia, serta meningkatkan perekonomian masyarakat lokal.

sumber : artikelpangan.blogspot.com

Senin, 18 Maret 2013

Tips Menyeduh Teh Hijau dan Teh Herbal

Agar khasiat yang terkandung dalam teh herbal tidak hilang, maka dalam menyeduhnya perlu tips tersendiri yang sebenarnya sangat mudah dilakukan.

    1. Hampir sama dengan ketika Sahabat membuat minuman susu formula untuk anak bayi > 6 bulan, yaitu dengan air mendidih yang telah didinginkan pada suhu hangat agar kandungan nutrisi, terutama vitamin tidak rusak, maka sama halnya ketika Sahabat menyeduh teh herbal, cukup dengan air panas-hangat pada suhu sekitar 70 - 80 derajat Celsius.Hal ini bertujuan agar kandungan antioksidan dalam teh herbal tidak rusak atau berkurang aktifitasnya. Untuk jenis-jenis teh lainnya, sebenarnya juga memiliki tingkat kepansan tersendiri, tetapi pada umumnya pada range dibawah 100 derajat Celsius, kecuali pada teh hitam dengan suhu 100 derajat Celsius pun masih diperbolehkan.
    2. Waktu untuk menyeduh teh cukup 5-7 menit. Bahkan untuk teh celup ada yang mengatakan cukup 3 menit. Kenapa? Ada yang mengatakan bahwa kertas yang digunakan sebagai kantong teh celup mengandung klorin, dimana klorin berfungsi sebgai pemutih dalam pembuatan kertas yang terbuat dari serbuk kayu yang berwarna cokelat. Padahal klorin dalam jumlah tertentu dapat berpengaruh terhadap kesehatan. Kupasan lebih jelasnya dapat dilihat disini. Adapun untuk teh seduh, dapat lebih lama 5-7 menit, mungkin berkaitan dengan efektifitas zat-zat aktif seperti EGCG (epigallocatechin gallate) sebagai antioksidan dan zat-zat lainnya optimal keluar/larut pada waktu 5-7 menit. Hanya saja saya belum menemukan penelitiaan tentang ini. Barangkali diantara Sahabat ada yang sudah mengetahuinya?? 
    3. Teh yang telah diseduh semalaman, jika disimpan pada suhu kamar bisanya sudah basi, sehingga tidak dapat dikonsumsi lagi karena dapat menyebabkan diare. 
    4. Dalam penyajian teh, apabila ditambah gula atau madu, maka dalam pengadukannya tidak boleh memutar 360 derajat, cukup diaduk setengah putaran bolak-balik seperti mengaduk dari arah jam 12 ke arah jam 6. Kenapa? Saya juga masih belum tahu. Sumbernya bisa dilihat disini pada paragraf terakhir :)
    5. Saat yang tepat mengkonsumsi teh, buat kita sudah lazim di pagi hari sebagai teman sarapan ya?? Tetapi ternyata secara internasional lebih umum meminum teh pada siang/sore dan malam hari. Mungkin ini tidak menjadi persoalan, hanya perbedaan budaya saja hehe :)
    6. Adapun untuk penyimpanan teh sebaikanya dalam tempat tertutup untuk mencegah terjadinya oksidasi dan tidak lembab (kering) untuk mencegah tumbuhnya jamur.
    sumber : artikelpangan.blogspot.com

    Selasa, 12 Februari 2013

    Makanan Romantis untuk Hari Valentine


    Makanan Romantis untuk Hari Valentine
    Menyambut hari kasih sayang atau Valentine rasanya ada yang kurang kalau tidak ada pernak-pernik yang berhubungan dengan kasih sayang. Apalagi jika pasangan kita menyiapkan kejutan berupa makanan-makanan cantik untuk kita. How romantic!

    Apel Bertukar Hati

    Es Batu Strawberry

    Es Batu Strawberry 1 oleh Kim Whitten

    Kentang Goreng Hati

    Kue Cup

    Pancake Hati

    Pizza Hati

    Roti Telur Hati

    Semangka Hati

    Semangka Hati 1 oleh Otchipotchi

    Sosis Hati

    Sushi Hati

    sumber : mobgenic.com


    Jumat, 04 Januari 2013

    Ini 5 Makanan Khas Tahun Baru

    Tahun baru adalah suatu perayaan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Budaya yang mempunyai kalender tahunan semuanya mempunyai perayaan tahun baru. Nah tidak ada salahnya ayo kita mengulik kebiasaan orang Jepang saat menyambut tahun baru, khususnya di dunia kuliner. Jepang memang terkenal dengan makanan freshnya dan rasanya yang enak. Apa sajakah makanan yang identik dengan tahun baru di Jepang? . Berikut 5 Makanan Khas Tahun baru di Jepang :

    1.Mochi 
    Mochi adalah makanan khas Jepang saat tahun baru. Salah satu tradisi menjelang tahun baru di Jepang adalah acara menumbuk mochi (mochitsuki). Satu orang bertugas menumbuk, sedangkan seorang lagi bertugas membolak-balik beras ketan dengan tangan yang sudah dibasahi air. Pembuatannya dibuat menggunakan ketan yang sudah ditanak kemudian dimasukkan ke dalam lesung dan ditumbuk menggunakan alu. Beras ketan itu harus ditumbuk hingga lengket sampai membentuk gumpalan besar mochi berwarna putih. Selain untuk dimakan sebagai pengganti nasi selama tahun baru, mochi juga digunakan untuk hiasan tahun baru yang disebut Kagami Mochi. Arti kata ‘Kagami’ adalah cermin, yang menunjukkan bahwa mochi tersebut dibentuk seperti bulatan cermin. Kagami mochi dibuat dengan menyusun dua buah mochi berukuran bundar, ditambah sebuah jeruk sebagai hiasan di atasnya. Dua buah bulatan mochi ini melambangkan ‘tahun lama’ dan ‘tahun baru’ atau pertanda baik yin yang. 

    2.Nanakusa
    Nanakusa (tujuh rumput) adalah bubur yang dimasak dengan tujuh jenis sayuran (beras, jewawut, proso milet, Echinochloa esculenta, kacang azuki, Beckmannia syzigacne, wijen) yang diberi sedikit garam dan rumput-rumputan. Bubur ini dimakan saat penutupan perayaan tahun baru, yaitu sekitar tanggal 7 Januari agar perut bisa beristirahat setelah dipenuhi makanan-makanan tahun baru. Selain itu, kepercayaan disana mengatakan bahwa bubur ini juga bisa menjauhkan seseorang dari segala jenis penyakit.
     
    3. Soba
    Soba adalah salah satu jenis mie khas Jepang yang dibuat dari tepung buckwheat yang digiling dengan tangan menggunakan penggilingan dari batu bundar yang dapat diputar. Pada Oomisoka atau malam tahun baru, orang Jepang memiliki tradisi memakan Soba. Tradisi ini dinamakan “Toshikoshi Soba”. Kepercayaan disana mengatakan bahwa dengan memakan soba, tahun baru dapat dilalui dengan lancar tanpa suatu halangan apapun.

    4..Osechi ryori
    Osechi ryori adalah makanan Jepang khas tahun baru. makanan ini cuma ada setahun sekali yaitu ketika awal pergantian tahun. Osechi ryori terbagi jadi 2 bagian yaitu makanannya dan Jubako (box kemasan tempat makanan, biasanya berwarna-warni) Makanan yang ada di dalamnya pun memiliki banyak arti misalnya untuk kesehatan, kesuburan, panen yang melimpah, panjang umur, kebahagiaan dll.

    5.Konbu
    Konbu yang merupakan sejenis rumput laut, melambangkan yorokobi berarti sukacita. Sedangkan ikan haring yang dibuat sushi melambangkan Kazunoko (“Kazu” berarti jumlah dan “ko” berarti anak), yaitu harapan agar diberkati dengan banyak anak di tahun mendatang. Ada juga Mochi, kue beras yang membutuhkan waktu lama untuk dikunyah, serta sup bernama ozoni

    Sumber : republika.co.id

    Senin, 24 Desember 2012

    Tradisi Hidangan Natal di Berbagai Belahan Dunia


    Desember telah tiba, itu berarti saatnya merayakan natal dan tahun baru! Pohon natal dengan hiasan dan lampu warna-warni, kado, dan macam-macam atribut yang identik dengan warna merah tentunya sudah menjadi barang-barang wajib yang harus disiapkan untuk mewarnai perayaan ini. Namun bukan hanya itu.  Natal juga tidak lengkap tanpa adanya berbagai hidangan khas yang lezat seperti kue kering, coklat, permen, dan kue tart.
    Di Indonesia, sajian Natal yang biasa disediakan adalah aneka kue kering seperti kue putri salju, serta kue jahe dengan berbagai bentuk yang digambari hiasan khas Natal. Bagaimana di negara lainnya? Simak cerita perayaan Natal di berbagai belahan dunia, berikut ini.

    Natal di Perancis
    Natal di negara jantung Eropa ini dirayakan lewat hidangan makan malam dengan menu daging yang disebut “le reveillon”. Reveillon berarti bangun atau panggilan untuk hari pertama, yang diartikan sebagai simbol kebangkitan spiritual di hari kelahiran Yesus. Daging tersebut bisa terdiri dari tiram, salmon asap, lobster, sosis, ham bakar, bebek panggang, angsa atau kalkun dengan chestnut dan isian.  Perancis Selatan juga memiliki tradisi Natal yang unik. Di sini, orang-orang biasa merayakan Natal dengan memasak Pie atau kue daging Natal yang bernama pain calendeau. Kue ini disajikan dengan cara dipotong menyilang kemudian dimakan hanya setelah bagian yang pertama diberikan kepada orang yang miskin.
    Natal di Filipina
    Di negara kepulauan di Asia Tenggara ini, Natal dirayakan dengan meriah dari beberapa minggu sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan diadakannya misa khusus sejak tanggal 16 hingga 24 Desember pagi.  Misa ini disebut dengan "Misa de Gallo", dan seusai misa biasanya disediakan berbagai makanan khas daerah yang terbuat dari beras. Malam harinya, setelah misa tengah malam, para keluarga Filipina berkumpul untuk menikmati makan malam bersama. Menunya pun cukup mengundang selera, mulai dari babi panggang utuh, daging asap, sampai aneka keju. Ini adalah saat di mana keluarga berkumpul untuk memohon kesehatan dan keselamatan bagi setiap orang sekaligus saling bertukar kado.
    Natal di Polandia
    Di Polandia, Natal dirayakan dengan berpuasa sejak tanggal 24 Desember hingga bintang pertama muncul di langit malam. Setelah itu mereka akan menikmati berbagai jenis makanan paling mewah dan beraneka sepanjang tahun. Uniknya, di saat makan malam bersama, akan ada sebuah kursi kosong untuk memberi pesan, "Yesus diundang ke meja makan kami." Kesucian Natal juga terlihat dari jamuan makanan Natal berupa wafer perdamaian yang diberikan oleh pendeta atau pastor pada tiap keluarga di jemaatnya. Wafer ini kemudian dipecahkan dan dibagi dengan semua yang ada di meja makan sebagai simbol perdamaian dan harapan yang baik.
    Natal di Australia
    Di Australia, biasanya Natal jatuh pada saat musim panas, oleh karena itu biasanya menu yang disajikan sebagai makan siang di hari Natal adalah kalkun, ayam, dan ham yang biasanya dalam keadaan dingin. Untuk menu penutupnya, mereka biasa menyantap Pavlova yang terdiri dari buah berry di atas meringue panggang.

    Natal di Jerman

    Menu favorit di Jerman pada hari Natal adalah Angsa panggang yang dilengkapi dengan kentang, kubis, wortel, ubi dan acar. Makanan ini biasa dihidangkan pada jamuan malam Natal. Sedangkan di daerah pedesaan selatan Jerman, menu di hari Natal biasanya terdiri dari makanan yang berasal dari babi hutan dan daging rusa.

    Natal di Italia

    Masyarakat Italia merayakan Natal dengan hidangan makan siang yang menyajikan hingga 7 macam menu, mulai dari antipasto, porsi kecil pasta, daging panggang, dua salad, dua puding manis sampai keju, buah, brandy serta cokelat. Biasanya tersedia juga Panettone sebagai makanan khas Natal. Kue yang menjadi salah satu lambang kota Milan ini berbentuk kubah dengan tinggi sekitar 30 cm. Terbuat dari adonan yang lembut dan setengah matang berisi permen dan kismis, Panettone umumnya dipotong dan dihidangkan bersama minuman panas yang manis atau anggur manis seperti spumante atau moscato.
     
    Natal di Rusia
    Sebagai negara yang mayoritas penduduknya menganut agama Kristen Ortodoks, Rusia merayakan Natal pada tanggal 7 Januari. Bukan hanya perbedaan tanggalnya yang unik, umat Kristen Ortodoks juga memiliki tradisi yang berbeda dalam merayakan Natal. Mereka biasanya menyajikan hidangan khusus berupa makanan tradisional Rusia, seperti buah prem, kubis fermentasi, serta bawang goreng dengan jamur. Selain itu, terdapat juga hidangan Natal lain seperti kue, pie dan pangsit daging.  
    Natal di Inggris
    Di Inggris, makanan wajib saat Natal adalah pudding plum dan ayam kalkun khas Inggris yang disebut Gregor. Setelah semua menu makanan tersedia, diterangi cahaya kayu yang terbakar di perapian, lagu-lagu pujian Natal dinyanyikan dan hidangan pun disantap
    Sumber : sukamasak.com

    Rabu, 28 November 2012

    Adhikarya Pangan Nusantara Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2012


    UNGARAN – Pembangunan ketahanan pangan Jawa Tengah dilaksanakan secara sinegis antara pemerintah dan masyarakat. Untuk membangun sinergi positif antar setiap stakeholders dalam mewujudkan ketahanan pangan wilayah maka dilaksanakan pemberian penghargaan ketahanan pangan bagi pembina, pelopor, pelayan dan pelaku ketahanan pangan, tutur Ir. Gayatri I.C., M.Si. 
    “Pemberian penghargaan ini sebagai salah satu wujud apresiasi pemerintah terhadap kerja keras, cerdas dan ikhlas seluruh masyarakat Jawa Tengah dalam berinovasi dan berkreasi telah menghasilkan karya-karya yang luar biasa yang bermanfaat dalam memperkuat ketahanan pangan Jawa Tengah”, tandasnya.
    Penghargaan ketahanan pangan ini merupakan agenda kegiatan tahunan yang disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah selaku Ketua Dewan Ketahanan Pangan. Tahun ini, penghargaan akan disampaikan bersamaan dengan perayaan puncak Hari Pangan Sedunia Tingkat Jawa Tengah yang dijadwalkan dilaksanakan di Kabupaten Kebumen, 20 November 2012.
    Penerima penghargaan diharapkan dapat dijadikan contoh bagi masyarakat dan aparatur pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional, wilayah, dan rumah tangga.  tegas beliau di akhir Rapat Persiapan Penyerahan Adhikarya Pangan Nusantara Tingkat Jawa Tengah Tahun 2012.

    sumber : www.jatengprov.go.id