Sabtu, 11 Desember 2010

36 Negara Krisis Pangan, Termasuk Indonesia

Sebanyak 36 negara berdasarkan pantauan Badan Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) mengalami krisis pangan akibat kenaikan harga-harga komoditas pangan akhir-akhir ini.

Menurut laporan yang dipublikasikan FAO Februari lalu, Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami krisis pangan. Krisis pangan yang dialami Indonesia selain karena kenaikan harga pangan diperparah dengan adanya banjir, gempa dan longsor.

Indonesia berdasarkan laporan Global Information and Early Warning System FAO ini termasuk negara-negara yang membutuhkan bantuan negara luar dalam mengatasi krisis tersebut.

Berikut negaranegara yang terkena krisis pangan di kawasan Afrika, ada 21 negara yakni Lesotho, Somalia, Swaziland, Zimbabwe, Eritrea, Liberia, Mauritania, Sierra Leone, Burundi, Republik Afrika Tengah, Chad, Congo, Côte d’Ivoire, Kongo, Ethiopia, Ghana, Guinea, GuineaBissau, Kenya, Sudan, dan Uganda.

Negara di kawasan Afrika sebagian besar terkena krisis pangan akibat mengalami perang saudara, masalah pengungsi dan kekeringan.

Di kawasan Asia ada 9 negara yang mengalami krisis pangan yakni Irak, Afghanistan, Korea Utara, Bangladesh, Indonesia, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, dan TimorLeste. Penyebab krisis pangan di negara Asia sebagian besar banjir dan gempa, kemudian konflik yang terjadi di Pakistan dan Afghanistan.

Di Amerika Latin ada 4 negara yakni Bolivia, Haiti, Nikaragua dan Republik Dominika yang mengalami banjir. Di Eropa ada 2 negara yang mengalami krisis pangan yakni Republik Moldova dan Federasi Rusia. Di Moldova terjadi krisis pangan karena kekeringan dan Federasi Rusia mengalami krisis karena adanya konflik.

Menanggapi laporan ini Presiden Bank Dunia Robert Zoellick meminta seluruh dunia untuk menyiapkan langkah mengatasi kelaparan dan malnutrisi akibat kenaikan harga pangan. “Kelaparan dan malnutrisi adalah aspek yang terlupakan dari Millennium Development Goals.

Kelaparan dan malnutrisi mendapat sedikit perhatian, kenaikan harga pangan tidak hanya mengancam manusia tapi akan mengancam kestabilan politik. Hal ini harus mendapat perhatian yang lebih serius,” ujarnya seperti dikutip situs Bank Dunia, Minggu (2/3).

Harga pangan selama ini meningkat karena berbagai hal, yang paling utama adalah karena kenaikan harga energi dan harga pupuk, kenaikan permintaan komoditas pangan karena subtitusi energi biofuel serta kekeringan di Australia dan negara lain.

Cadangan biji-bijian dunia saat ini tercatat paling buruk. Hal ini mengakibatkan harga seperti harga gandum meningkat hampir 200 persen. Secara keseluruhan harga-harga komoditas pangan sudah naik 75 persen.

“Kenaikan harga biji-bijian tidak disebabkan oleh gangguan persediaan yang singkat, dan ini membutuhkan waktu yang lama untuk kembali menyediakan cadangan bahan pangan dan menurunkan harga,” ujar Don Mitchell, Lead Economist Bank Dunia.

Sereal
Sepanjang tahun 2008 ini harga pangan sereal dunia akan terus meningkat. Harga gandum dunia pada Januari telah meningkat 83 persen dibanding harga pada bulan yang sama tahun lalu.

Demikian siaran pers Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang diterima detikcom melalui Atase Pertanian KBRI Roma Erizal Sodikin Jumat waktu Eropa Tengah (CET).

Menurut FAO, meskipun tahun 2008 ini diduga akan terjadi kenaikan memadai terhadap produksi sereal dunia, namun kenaikan produksi tersebut tidak menyebabkan harga produk sereal menjadi turun, bahkan diduga harga sereal dunia akan terus naik.

Dugaan kenaikan produksi didasarkan pada kondisi cuaca yang menguntungkan di wilayah penghasil utama sereal seperti di Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Sementara akibat keterbatasan stok sereal dunia dan meningkatnya permintaan dunia akan sereal merupakan dua hal yang menyebabkan harga produk ini terus meningkat. Sebagai contoh harga gandum dunia pada Januari 2008 meningkat 83 persen dibanding harga pada bulan yang sama tahun yang lalu.

Lebih lanjut dikemukakan bahwa di beberapa negara yang berpendapatan rendah dan defisit pangan pada tahun 2007/2008 ini diperkirakan mengimpor pangan sereal 2 persen lebih rendah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar